Oleh Sabjan Badio
Saya sudah berjanji untuk menulis 61 tulisan sepanjang bulan Juni s.d. Juli 2010. Ini adalah tulisan ke-60 yang harus ditulis untuk mencapai target tersebut. Kali ini saya terpaksa “meminta bantuan” Sugihastuti dengan cara membaca bukunya yang berjudul Editor Bahasa.
Ketika saya membuka halaman 113, terbaca kalimat “Dari Bukit Batu inilah rupanya perjalanan Tjilik Riwut berpangkal”. Menurut Sugihastuti kalimat tersebut harus diperbaiki, perbaikannya pada kata rupanya (rupanya berarti wajahnya atau mukanya). Kata yang benar pengganti kata rupanya untuk kalimat tersebut adalah rupa-rupanya, yang berarti ‘kelihatannya, tampaknya, jika meniliki keadaannya, jika menilik bentuknya, jika menilik kelakuannya, agaknya, kiranya, barangkali, gerangan, konon, dan kiranya.
Rupa dan rupanya adalah kosakata bahasa Indonesia, terjadi salah kaprah hanya pada kasus-kasus seperti contoh di atas.
Filed under: salah kaprah, bahasa indonesia, ensiklopedia salah kaprah, kamus salah kaprah, salah kaprah
Roy Peter Clarck, writing coach dari Poynter Institute yg selalu saya kagumi untuk karya-karyanya, menyarankan untuk menulis seringkas mungkin. Semua kata terhitung. Karena itu, ia menasehati agar penulis memangkas kata-kata atau frasa-frasa yg tidak penting dan yang tidak akan mengubah makna, macam also, seem, there is, it is, dsb. Dalam bahasa Indonesia, hal serupa juga disarankan oleh pakar menulis. Kata-kata macam “rupanya,” “memang,” dan “juga” hendaknya dihindari.
Nah, jika saya harus menyunting kalimat di posting bung Sabjan, saya akan membuan “rupanya” dan menulisnya seperti ini:
atau
Untuk tujuan penghematan, saya setuju dengan dua versi yang ditulis Bung David.