Oleh Sabjan Badio
Beberapa tahun silam, saya diundang pada acara berbuka puasa bersama di sebuah supermarket yang terdapat di kota Jogja. Sebelum acara, saya menyempatkan salat di Musola yang ternyata berada di lantai paling bawah, dekat dengan area parkir sepeda motor. Yang saya dapati kemudian, ruangan kecil dengan tempat wudu yang kecil pula; tempat wudunya banjir karena salurannya kurang bagus–jangan pernah dibandingkan dengan lantai-lantai di atasnya.
Musola; Musolah, Mushola, Musholah adalah pilihan yang digunakan banyak penulis dalam menyebut ‘Langgar atau Surau’. Cobalah periksa di mesin pencari Google, banyak sekali artikel yang menggunakan keempat kata tersebut. Setelah memeriksa di Google, periksalah pula di KBBI. Apa yang Anda temukan? Ya, Musala; bentuk baku dari keempat kata tersebut adalah Musala.
Filed under: salah kaprah, bahasa indonesia, ensiklopedia salah kaprah, kamus salah kaprah, salah kaprah
asSalaamu’alaykum,
musala ?
lalu bagaimana dgn:
sual yg “jadi” soal ?
wazan: yas-alu, mas-alah (“jadi”: masalah).
Semoga tidak jadi masalah. Sudah cukup berat derita rakyat/masyarokah.
Kosakata bahasa Indonesia, memang, banyak yang berasal dari bahasa Arab. Selain dari bahasa Arab, juga berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Melayu itu sendiri juga banyak kosakatanya yang berasal dari bahasa Arab.
Ketika semua kosakata tersebut sudah menjadi kosakata bahasa Indonesia, ada yang tidak berubah, ada pula yang mengalami perubahan–di antaranya kata musala.
yup.. iya mas, saya sendiri juga seorang editor sekaligus penulis.. ^^ yg bener memang “musala” – kata ini baku dan lebih mudah dipahami (bahkan bagi non muslim itu sendiri). Salah satu keuntungan menggunakan kalimat baku sesuai KBBI adalah kata-kata tersebut mudah dipahami secara general bagi semua orang Indonesia.. sehingga apa yg menjadi maksud kalimat tsb dapat tersampaikan.. ^^
Betul sekali. Kosakata bahasa Indonesia, walaupun pada awalnya kosakata bahasa lain, harus sesuai dengan “lidah” orang Indonesia. Ketika kosakata yang diambil dari bahasa lain tersebut sudah sesuai dengan “lidah” Indonesia, tidak masalah. Akan tetapi, jika tidak sesuai, tentu harus diadakan perubahan. Contohnya: kata mushola > musala.
Dalam daftar huruf-huruf dan tanda-tanda latin yang menggantikan huruf arab,
S untuk siin
Sh untuk shaad
lihat Al-Qur’an terjemah, ada daftarnya.
Trims infonya.
Dalam pedoman ejaan, hanya empat satuan bunyi yang dilambangkan dengan dua huruf, yaitu , , , dan
Jadi dengan demikian, kata sarapan yang menggunakan huruf dalam bahasa Arab menjadi dalam bahasa Indonesia.
Contoh: Kita tidak pernah membaca tulisan mushibah, nashihat, atau inshaf. Yang biasa kita baca adalah musibah, nasihat, atau insaf. Kata maksud, kisah dan maksiat juga tidak pernah ditulis dengan
Sama dengan kata SALAT, hendaklah tidak ditulis SHALAT atau SHOLAT
maaf, ada beberapa kata yang hilang
Dalam pedoman ejaan, hanya empat satuan bunyi yang dilambangkan dengan dua huruf, yaitu (KH), (SY), (NG), dan (NY)
Jadi dengan demikian, kata sarapan yang menggunakan huruf (SAD) dalam bahasa Arab menjadi (S) dalam bahasa Indonesia.
Contoh: Kita tidak pernah membaca tulisan mushibah, nashihat, atau inshaf. Yang biasa kita baca adalah musibah, nasihat, atau insaf. Kata maksud, kisah dan maksiat juga tidak pernah ditulis dengan (SH)
Sama dengan kata SALAT, hendaklah tidak ditulis SHALAT atau SHOLAT
Terima kasih Bung Accher. Penjelasan Anda lengkap sekali.
ngenes banget musholanya…
Hehe. kewajiban atas fasum (fasilitas umum) tak dilaksanakan. yang berwenang memeriksa siapa, ya?
Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang bisnis di blogku : http://www.yohanwibisono.com, silahkan kunjungi, mudah-mudahan bermanfaat. thx
OK. Trims, tunggu ya. Yohan Wibisono, kayaknya nama-nama orang terkenal tuh.
yah,banyak kata yang juga bingung.amien,amin,amen..dan banyak lagi,haha…
salam kenal
Yang penting, yang nulis gak bingung :-)