ensiklopedia salah kaprah

tentang fenomena berbahasa di tanah air

Musola, Musolah, Mushola, Musholah

Oleh Sabjan Badio

Beberapa tahun silam, saya diundang pada acara berbuka puasa bersama di sebuah supermarket yang terdapat di kota Jogja. Sebelum acara, saya menyempatkan salat di Musola yang ternyata berada di lantai paling bawah, dekat dengan area parkir sepeda motor. Yang saya dapati kemudian, ruangan kecil dengan tempat wudu yang kecil pula; tempat wudunya banjir karena salurannya kurang bagus–jangan pernah dibandingkan dengan lantai-lantai di atasnya.

Musola; Musolah, Mushola, Musholah adalah pilihan yang digunakan banyak penulis dalam menyebut ‘Langgar atau Surau’. Cobalah periksa di mesin pencari Google, banyak sekali artikel yang menggunakan keempat kata tersebut. Setelah memeriksa di Google, periksalah pula di KBBI. Apa yang Anda temukan? Ya, Musala; bentuk baku dari keempat kata tersebut adalah Musala.

Filed under: salah kaprah, , , ,

Minal ‘Aidin wal Faizin

Oleh Sabjan Badio

Saya tertarik dengan tulisan Tyan Sae yang berjudul “Tradisi Salah Kaprah“, kalimat Minal ‘Aidin wal Faizin selama ini memang banyak disangka berarti ‘mohon maaf lahir dan batin’. Anggapan tersebut semakin tegas setelah saya membaca berita di Detik.com yang berjudul “Qory Sandioriva Sudah ‘Minal Aidin Wal Faizin’ ke Ibunya” dan mendapati pernyataan pengacara Qory, Malik Bawazir: “Nggak, dia sudah minal aidin (wal faizin) sama ibunya. Sudah saya tanya, saat Lebaran dia juga sampaikan permohonan maafnya”.

Berdasarkan catatan Wikipedia, Minal ‘Aidin wal Faizin tidak terdapat dalam tradisi Arab, ungkapan tersebut secara harfiah diterjemahkan menjadi “dari (yang) kembali dan berhasil”–kacau, kan? Yang sebenarnya dimaksudkan dari ungkapan tersebut adalah “Semoga kita semua tergolong mereka yang kembali (ke fitrah) dan berhasil (dalam latihan menahan diri)”.

Ungkapan yang digunakan saat Idul Fitri seharusnya “taqobbalallahu minna waminkum” yang artinya “semoga Allah menerima amalku dan amal kalian”. Masalah setelahnya disertai kata-kata mohon maaf, itu boleh saja sebab umat Islam dianjurkan untuk menghapus salah, di antaranya dengan minta maaf.

Jadi, ucapan yang disarankan di Indonesia (dari saya sebagai blogger) adalah: “Taqobbalallahu minna waminkum dan mohon maaf lahir dan batin”.

“Tulisan ini dibuat untuk memeriahkan acara lomba blog pesona muslim.”

Filed under: salah kaprah, , , ,

Wanita Indonesia Tidak Perlu Menggunakan BH?

Oleh Sabjan Badio

Mengapa wanita Indonesia selalu menggunakan BH? Apakah karena banyak orang Indonesia keturunan Belanda atau suka pada (meniru) wanita Belanda?

BH berasal dari bahasa Belanda, bustehouder. Dalam bahasa Indonesia BH dikenal dengan istilah kutang. Yang lebih seru, Eko Endarmoko dalam Tesaurus Bahasa Indonesia menyamakan kutang dengan beha dan  pengampu susu.

Setelah  membaca tulisan ini, jika Anda wanita, apakah akan tetap menggunakan BH atau kutang? Saya yakin tetap menggunakan BH, itu wajar. Seperti yang telah saya tulis pada artikel berjudul “Di Antara Celana Dalam dan C.D. (Si Di)“, masyarakat Indonesia memiliki budaya “malu-malu”. Dengan budaya malu-malu tersebut, BH lebih dipilih karena lebih tersamar daripada kutang dan pengampu susu.

Ah, jangan-jangan kutang baru dikenal sejak kedatangan wanita Belanda ke Indonesia, sehingga namanya BH, bustehouder. Benarkah?

Filed under: salah kaprah, , , ,

Di Antara Celana Dalam dan C.D. (Si Di)

Oleh Sabjan Badio

Sudah memakai celana dalam? Ya, Anda boleh melanjutkan membaca.

Masyarakat Indonesia jarang menyebut istilah celana dalam. Biasanya mereka menyebutnya dengan singkatan CD (si di). Di Indonesia memang masih ada budaya “malu-malu”. Saya sebut budaya “malu-malu” karena di budaya itu sendiri terselip beberapa aksi porno-erotis yang dilegalkan dan diajarkan kepada anak-anak, contohnya lagu “Cucak Rowo” dan aksi mandi di sungai. Dengan adanya budaya “malu-malu” itu, kita menyebut celana dalam dengan singkatan CD.

C.D. untuk celana dalam sebenarnya bahasa Indonesia, bukan bahasa Inggris. Oleh karena itu, ucapannya menurut “gaya” bahasa Indonesia pula, ce de. Berbeda dengan C.D. untuk celana dalam, C.D. untuk compact disc memang diucapkan si di (si:’di:). Hal yang mengganjal juga terjadi untuk singkatan handphone atau hand phone, singkatannya hp (ha pe), sementara hp untuk merek PC (juga notebook dan netbook) diucapkan eɪʧ’pi: dan Ph.D. diucapkan pi: eɪʧ’di:.

Itulah Indonesia, sambung-menyambung menjadi satu.

Filed under: salah kaprah, , , ,

Di Antara Dendam Kesumat dan Danau Dendam Tak Sudah

Oleh Sabjan Badio

Pernahkah Anda merasa disakiti dan berkinginan kuat untuk membalas rasa sakit tersebut? Hal demikian kita namakan dengan dendam; dendam kesumat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dendam diartikan sebagai ‘berkeinginan keras untuk membalas (kejahatan dsb)’. Berdasarkan pengertian tersebut, masyarakat mengartikan kata dendam hanya pada batasan kejahatan. Padahal, di sana tertuang singkatan dsb yang menunjukkan lingkup dendam tidak sekadar kejahatan.

Di Bengkulu Utara, ada sebuah danau nan indah bernama Danau Dendam Tak Sudah. Kata dendam dalam nama Danau Dendam Tak Sudah menurut sebagian masyarakat Bengkulu berarti ‘kenangan yang kuat atas danau tersebut yang menimbulkan keinginan untuk kembali menikmati keindahannya’. Pada kehidupan sehari-hari penutur bahasa Melayu, dendam memang tidak sekadar digunakan untuk aktivitas kejahatan, melainkan juga untuk ‘ingatan yang kuat kepada seseorang sehingga menimbulkan keinginan yang kuat pula untuk bertemu; ibarat remaja yang sedang jatuh cinta’.

Oleh karena itu, jika Anda memiliki rasa dendam terhadap blog ini, silakan berkunjung kembali.

Filed under: salah kaprah, , , ,

Bantuan Operasional Sekolah

Oleh Sabjan Badio

Ada yang menarik pada masa pemerintahan Presiden SBY, yaitu Bantuan Operasional Sekolah. Mendapati istilah tersebut, saya pun bertanya-tanya: Mengapa istilah tersebut baru muncul akhir-akhir ini? Mengapa dinamakan bantuan?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kita menemukan lema bantu yang salah satu turunannya bantuan. Bantuan disinonimkan dengan ‘pertolongan’. Pertanyaannya: Mengapa pemerintah harus menolong sekolah melalui program BOS? Bukankah pendidikan tanggung jawab negara yang artinya kewajiban pemerintah untuk mendanainya?

Ah, sudah pukul 00.17. Saya butuh istirahat.

Filed under: salah kaprah, , , ,

Hacker (Peretas) dan Cracker

Oleh Sabjan Badio

Saat ini, kata hacker kerap terdengar di telinga kita, baik melalui aktivitas online maupun melalui media massa. Hacker sebenarnya memiliki padanan dalam bahasa Indonesia, yaitu peretas. Hacker atau peretas ini pada awalnya memiliki makna yang postif, seperti dijelaskan dalam Wikipedia berikut.

Terminologi peretas muncul pada awal tahun 1960-an diantara para anggota organisasi mahasiswa Tech Model Railroad Club di Laboratorium Kecerdasan Artifisial Massachusetts Institute of Technology (MIT). Kelompok mahasiswa tersebut merupakan salah satu perintis perkembangan teknologi komputer dan mereka berkutat dengan sejumlah komputer mainframe. Kata bahasa Inggris “hacker” pertama kalinya muncul dengan arti positif untuk menyebut seorang anggota yang memiliki keahlian dalam bidang komputer dan mampu membuat program komputer yang lebih baik daripada yang telah dirancang bersama.

Pada perkembangannya, makna hacker atau peretas semakin mengarah kepada hal-hal negatif. Hal ini tidak terlepas dari peran media massa. Masih berdasarkan catatan Wikipedia, pada tahun 1983 muncul kelompok yang menamakan dirinya The 414s. Kelompok yang berbasis di Milwaukee (Amerika Serikat) ini membobol setidaknya 60 komputer. Kelompok ini kemudian dikenal dengan istilah hacker. Hacker-lah yang digunakan media massa untuk menyebut kelompok ini dalam pemberitaan mereka. Selain media massa, dunia hiburan pun berperan dalam penegatifan istilah hacker. Pada tahun 1995 muncul film Hakers yang dibintangi Angelina Jolie. Film ini  menceritakan aksi anak muda jago komputer bawah tanah yang berusaha melumpuhkan keamanan sistem komputer sebuah perusahaan yang menerapkan teknologi tinggi.

Akhirnya, saat ini kita mengenal istilah white hat hacker (peretas yang secara etis menunjukkan suatu kelemahan dalam sebuah sistem komputer. White hat hacker secara umum lebih memfokuskan aksinya kepada bagaimana melindungi sebuah sistem) dan black hat hacker (peretas yang menerobos keamanan sistem komputer tanpa izin, umumnya dengan maksud untuk mengakses komputer-komputer yang terkoneksi ke jaringan tersebut.

Rupanya ada kelompok yang tidak setuju dengan penggunaan istilah hacker untuk kelompok yang meretas sistem keamanan komputer tanpa izin dan bermaksud negatif). Untuk mengatasinya Richard Stallman mengusulkan nama cracker untuk kelompok ini.

Referensi:

  • Peretas”, http://id.wikipedia.org, Dakses Tanggal 08 Agustus 2010 Pukul 09.00 WIB.
  • White Hat Hacker”, http://id.wikipedia.org, Dakses Tanggal 08 Agustus 2010 Pukul 09.00 WIB.
  • Black Hat Hacker”, http://id.wikipedia.org, Dakses Tanggal 08 Agustus 2010 Pukul 09.00 WIB.
  • Filed under: salah kaprah, , , ,

    Yogyakarta State University

    Sabjan Badio

    Saya selalu tertarik dengan jaket mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta, terutama yang bertuliskan identitas kampusnya, Yogyakarta State University. Setiap membaca tulisan tersebut, saya selalu terusik, berdasarkan terjemahan saya (yang mungkin serampangan ini) Yogyakarta State University (Yogyakarta State / University) berarti ‘Universitas / Negeri Yogyakarta.

    Ketika membaca identitas Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Bahasa dan Seni UNY, saya menemukan State University of Yogyakarta (State Unversity / of Yogyakarta). Nama tersebut jika diartikan menjadi Universitas Negeri / Yogyakarta (universitas negeri yang ada di Kota Yogyakarta). Inilah yang menurut saya benar.

    Semoga analisis ini benar, saya sebenarnya ragu karena terus-terang kurang mengerti bahasa Inggris.

    Filed under: salah kaprah, , , ,

    Rupanya

    Oleh Sabjan Badio

    Saya sudah berjanji untuk menulis 61 tulisan sepanjang bulan Juni s.d. Juli 2010. Ini adalah tulisan ke-60 yang harus ditulis untuk mencapai target tersebut. Kali ini saya terpaksa “meminta bantuan” Sugihastuti dengan cara membaca bukunya yang berjudul Editor Bahasa.

    Ketika saya membuka halaman 113, terbaca kalimat “Dari Bukit Batu inilah rupanya perjalanan Tjilik Riwut berpangkal”. Menurut Sugihastuti kalimat tersebut harus diperbaiki, perbaikannya pada kata rupanya (rupanya berarti wajahnya atau mukanya). Kata yang benar pengganti kata rupanya untuk kalimat tersebut adalah rupa-rupanya, yang berarti ‘kelihatannya, tampaknya, jika meniliki keadaannya, jika menilik bentuknya, jika menilik kelakuannya, agaknya,  kiranya, barangkali, gerangan, konon, dan kiranya.

    Rupa dan rupanya adalah kosakata bahasa Indonesia, terjadi salah kaprah hanya pada kasus-kasus seperti contoh di atas.

    Filed under: salah kaprah, , , ,

    Blogger

    Oleh Sabjan Badio

    Apa yang Anda bayangkan ketika membaca kata blogger? Sama, saya juga membayangkan orang yang di antara pekerjaannya ngeblog. Akhir-akhir ini saya terusik, bukankah blogger mengacu pada situs penyedia layanan blog gratis milik Google (blogger.com)?

    Lalu, apa istilah untuk orang yang pekerjaannya, di antara aktivitasnya, ngeblog? Ya, tentu saja bloger kecuali jika ditanyakan orang yang pekerjaannya ngeblogg (dengan huruf g double) jawabannya baru blogger.

    Terus-terang saya belum begitu yakin atas analisis saya yang satu ini. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan masukan dari para bloger sekalian.

    Filed under: salah kaprah, , , ,

    SocialVibe


    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.